"Seperti biasa, setelah pukul 12 kami semua berhamburan keluar kelas. Ingin rasanya mengeluarkan alkana, alkuna dan aldehid yang baru saja dimasukkan secara paksa oleh guru kami. Mungkin dia tak tahu kalau sebelumnya otak kami sudah penuh dengan SPDV, matriks, dan trigonometri. ku tengok kanan dan kiri yang membuat hati ini bimbang. ke kiri berjalan kekantin untuk mengisi perut kami yang keroncongan atau kekanan melangkahkan kai menuju masjid al manar? Ya, masid almanar, masjid dari universitas muhamadiyah ponorogo yang ada di depan sekolah kami. masjidnya besar, nyaman untuk sholat. Dan entah kenapa ketika sholat disana, udara seolah mendukung kami sholat lebih khusyuk dengan kesejukannya. Sekolah kami memang sekolah tertua dan terbaik dikota kami. tapi sayangnya musholanya kecil dengan ventilasi yang kurang baik. sehingga bila kami yang laki laki sholat di dalam. shulit untuk khusyuk mengingat kami harus sering sering mengusap peluh yang akan jatuh. kipas angin tua yang menggantikan fuungsi lampu hias ditengah masjid seolah tak mampu mendinginkan ruangan. di geber dengan kecepatan maksimalpun tetap tak mampu mendingan kan raugnan yang seluas sekitar 7x8 meteran. nasib kaum hawa lebih mendingan. teras masjid dibawah atap seng dan rangka besi.dengan kain hijau sebagai pembatas dengan jalan membuat udara bebas bergerak, membuat angin bisa mnyapu peluh di siang hari.
Jumat, 27 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Untuk yang setia menemani ketika sang bulan pergi
Untuk yang setia menemani ketika sang bulan pergi.
Untuk yang selalu memberikan senyum sehangat mentari.
Tak tahukah sikapmu itu buat ku menjadi bingung?
Aku tahu maksud senyummu
Aku tahu kenapa sikap ramahmu
Dan aku kagum akan akhlakmu
Kagum pula akan kuatnya imanmu
Tapi hanya sebatas kagum, bahwa masih ada wanita seperti dirimu.
Untuk yang selalu memberikan senyum sehangat mentari.
Tak tahukah sikapmu itu buat ku menjadi bingung?
Aku tahu maksud senyummu
Aku tahu kenapa sikap ramahmu
Dan aku kagum akan akhlakmu
Kagum pula akan kuatnya imanmu
Tapi hanya sebatas kagum, bahwa masih ada wanita seperti dirimu.
Langganan:
Postingan (Atom)



